Cetak ini Laman

PDRB

PDRB Kota Banjar Tahun 2008-2012

Secara nominal, selama periode 2008-2012, Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB ADHB) Kota Banjar mampu meningkat lebih dari setengah triliun rupiah, yaitu dari 1.433,56 milyar rupiah di Tahun 2008 meningkat menjadi 2.136,71 milyar rupiah di Tahun 2012. Pencapaian PDRB atas dasar harga berlaku di Kota Banjar Tahun mulai tahun 2008-2012 terus mengalami penurunan dari 11.13 persen menjadi 9,65 persen di Tahun 2011. Dimana sektor yang mengalami laju peningkatan paling tinggi adalah sektor pertambangan dan penggalian mencapai 5,99 persen dari tahun sebelumnya 2,44 persen yang hampir naik 100 persen dari tahun sebelumnya, disusul oleh sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 8,29 pesen, sektor bangunan sebesar 11,77 persen dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 9,10 persen.

PDRB Kota Banjar

Sementara Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan (PDRB ADHK) tahun dasar 2000 juga tampak terus tumbuh dari tahun ke tahun. Selama periode 2008-2011, PDRB atas dasar harga konstan Tahun 2000 bergerak dari 677,46 milyar rupiah pada Tahun 2008 menjadi sebesar 789,96 milyar rupiah atau mengalami pertumbuhan sebesar 5,35 persen di Tahun 2011, namun di Tahun 2012 terjadi perlambatan sebesar 5.26 persen meskipun dalam nilai rupiahnya mengalami pertumbuhan menjadi 831,48 milyar rupiah. Hanya pendukungnya bukan lagi sektor industri dan perdagangan tapi sekarang ini muncul sektor bangunan dan keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, ini terjadi karena di Kota Banjar sudah mulai menjamur usaha properti dan usaha persewaan kamar/kostan sebagai bisnis baru di Kota Banjar.

PDRB 2

Berdasarkan lapangan usaha, menunjukan bahwa seluruh sektor ekonomi yang membentuk PDRB di Kota Banjar Tahun 2012 mengalami pertumbuhan yang kurang memuaskan, kecuali di sektor tersier hampir mengalami pertumbuhan positif terutama di sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 9,02 persen, hal ini dipengaruhi oleh beroperasinya hotel baru yaitu Hotel Mandiri di wilayah Kecamatan Banjar dipertengahan Tahun 2011 di samping mulai tertata dengan baik perdagangan pasar di Kota Banjar dengan dibangunnya pasar baru dilokasi yang lama. Sektor lainnya juga cukup tinggi kinerja laju pertumbuhannya secara berturut-turut sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 7,89 persen, sektor jasa-jasa sebesar 4,18 persen dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,06 persen. Sedangkan sektor sekunder hampir semuanya mengalami penurunan baik sektor industri pengolahan, sektor listrik, gas dan air bersih dan sektor bangunan.

Besarnya sumbangan masing-masing sektor dalam menciptakan Laju Pertumbuhan Ekonomi selama Tahun 2010-2011 menarik untuk dicermati. Sektor-sektor ekonomi yang nilai PDRB ADHK-nya besar tetap akan menjadi penyumbang terbesar bagi Laju Pertumbuhan Ekonomi, walaupun laju pertumbuhan sektor bersangkutan bukan yang terbesar. Sektor perdagangan, hotel dan restoran yang tahun sebelumnya merupakan sektor ke empat yang menyumbang pertumbuhan ekonomi Kota Banjar di Tahun 2012 ini malah menjadi penyumbang terbesar ke pertama yaitu sebesar 9,02 persen dimana sumber pertumbuhannya yaitu 3,07 persen dilanjut sektor pengangkutan dan komunikasi LPE nya sebesar 7,89 persen tapi ternyata sumber pertumbuhannya hanya 0,55 persen lebih kecil dibandingkan sektor industri pengolahan sebesar 0,87 persen meskipun LPE nya tahun ini mengalami perlambatan sebesar 7,33 persen.

Dengan melihat besarnya kontribusi keempat sektor tersebut yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan, sektor jasa-jasa dan sektor pengangkutan dan komunikasi terhadap pertumbuhan PDRB Kota Banjar Tahun 2012, maka keempat sektor tersebut bisa dikatakan sebagai sektor-sektor dominan di Kota Banjar untuk saat ini dilihat dari sumber pertumbuhannya. Untuk terus meningkatkan LPE Kota Banjar di masa mendatang diperlukan upaya untuk menggali sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru yang akseleratif dan realiable sesuai dengan visi dan misi pembangunan Kota Banjar terutama disektor pertanian yang mengalami perlambatan padahal menjadikan visi pemerintah Kota Banjar adalah menjadikan Kota Banjar menuju Kota Agropolitan untuk wilayah Priyangan Timur Jawa Barat di samping terus mempertahankan pertumbuhan ekonomi di sektor-sektor dominan yang sudah ada sekarang ini.

Dalam rangka melihat dominasi dan melihat ada tidaknya transformasi struktur ekonomi, sembilan sektor ekonomi sering dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok yaitu:

  1. Sektor Primer : Sektor yang tidak mengolah bahan baku, melainkan hanya mendayagunakan sumber-sumber alam seperti tanah dan segala yang terkandung di dalamnya. Sektor ini meliputi Sektor Pertanian serta Sektor Pertambangan dan Penggalian
  2.  Sektor Sekunder : Sektor yang mengolah bahan baku dari sektor Primer maupun Sektor sekunder itu sendiri, menjadi barang lain yang lebih tinggi nilainya. Sektor ini meliputi Sektor Bangunan, Sektor Industri Pengolahan dan Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih.
  3. Sektor Tersier : Sektor yang produksinya bukan dalam bentuk fisik, melainkan dalam bentuk jasa. Sektor ini meliputi Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi, Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan serta Sektor Jasa-jasa.

PDRB Kota Banjar

PDRB atas dasar harga berlaku dalam 3 (tiga) kelompok sektor. Terlihat bahwa kelompok tersier masih mendominasi dalam penciptaan nilai tambah di Kota Banjar selama periode 2008-2012. Besaran PDRB atas dasar harga berlaku kelompok tersier di Tahun 2008 sampai Tahun 2013 terus mengalami peningkatan. Di Tahun 2008 hanya sebesar Rp. 869,2 milyar dan terus mengalami peningkatan hingga mencapai. 1,3 triliun di Tahun 2012 atau memiliki pangsa terhadap total PDRB Kota Banjar sebesar 63,38 persen.

Selanjutnya PDRB atas dasar harga berlaku kelompok sekunder menghasilkan nilai tambahan sebesar Rp. 433,32 milyar di Tahun 2012 atau meningkat dari 19,84 persen Tahun 2011 menjadi 20,28 persen Tahun 2012, yang sebelumnya dari Tahun 2008-2010 kondisi nilai tambah di kelompok sektor ini selalu mengalami penurunan terutama di sektor industri pengolahan.

Untuk PDRB atas dasar harga berlaku kelompok primer Tahun 2012 tercatat sebesar Rp. 349,07 milyar atau dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 336,97 milyar. Bertambah produktivitas sektor primer masih didominasi oleh kinerja sektor terutama sektor pertanian, meskipun nilai tambahnya ternyata menurun dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 17,29 persen menjadi 16.34 persen di Tahun 2012.

Apabila PDRB dihitung atas dasar harga konstan Tahun 2000, kinerja sektor sekunder Tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 7,14 persen dari 8,25 persen. Tahun 2011, salah satu sebab terjadinya penurunan di sektor ini adalah industri-industri yang sudah ada tidak membuka lowongan kerja sehingga tidak terjadi penyerapan tenaga kerja yang cukup signifikan. Sama hal nya dengan kinerja sektor primer, juga mengalami penurunan menjadi -3,41 persen dari 2,86 persen Tahun 2011, dimana keadaan ini terjadi karena adanya fenomena alam yang kurang mendukung terhadap hasil produksi pertanian. Sedangkan di sektor tersier terus mengalami peningkatan yang cukup tinggi dari 5,32 persen menjadi 7,47 persen, kondisi ini lebih banyak penambahannya dari lapangan usaha sektor jasa-jasa, baik dari jasa pemerintahan ataupun dari swasta karena keduanya sama memberikan kontribusi yang sama besarnya akan perkembangan ekonomi Kota Banjar.

Struktur ekonomi suatu wilayah sangat dipengaruhi oleh potensinya baik potensi sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM) yang tersedia. Salah satu indikator yang sering digunakan untuk menggambarkan struktur ekonomi suatu wilayah adalah kontribusi sektoral dalam pembentukan PDRB secara keseluruhan.

Kontribusi sektoral memberikan informasi tentang komposisi per sektor yang memberi andil pada perekonomian daerah secara keseluruhan. Kontribusi suatu sektor dapat meningkat secara normal, namun menurun secara persentase. Oleh sebab itu, untuk keperluan analisis, angka persentase distribusi sektoral menjadi lebih penting.

Semakin besar persentase distribusi suatu sektor dalam pembentukan PDRB, maka akan semakin besar pula pengaruh sektor tersebut dalam perkembangan ekonomi suatu daerah. Di samping itu, distribusi persentase dapat memperlihatkan kontribusi nilai tambah setiap sektor dalam pembentukan PDRB sehingga akan tampak sektor-sektor yang menjadi pemicu pertumbuhan (sektor andalan) di wilayah yang bersangkutan. Lebih jauh lagi, distribusi persentase juga bisa memperlihatkan ada tidaknya pergeseran struktur perekonomian daerah.

Jika melihat distribusi persentase PDRB Kota Banjar, sektor tersier terus berkonstribusi dominan. Mulai Tahun 2008-2010 Pangsa (share) sektor tersier terus bergerak naik, yaitu dari 62,52 persen di Tahun 2008 merangkak naik menjadi 62,99 persen di Tahun 2010 dan sedikit menurun menjadi sebesar 62,87 persen di Tahun 2011, namun di Tahun 2012 sektor tersier naik pesat menjadi 63,38 persen, hal ini terjadi dikarenakan sudah stabilnya perdagangan di pasar Banjar dan sudah mulai beroperasinya hotel baru yang mulai dikenal oleh wisatawan yang datang ke Kota Banjar walaupun hanya menginap disaat ada even roadrest motor yang selalu diselenggarakan oleh Pemkot Banjar mulai yang bersekala Lokal (priangan) sampai Nasional. Sementara di sektor primer dari tahun ke tahun cenderung menurun hal ini disebabkan adanya proses pergeseran struktur ekonomi dari sektor primer ke sektor- sektor lainnya (sektor sekunder dan tersier) yang tidak dapat dihindari, semakin berkurangnya potensi sumber daya alam dan bertambahnya alih fungsi lahan produktif menjadi area pemukiman dan industri menyebabkan pangsa sektor primer lambat laun semakin tertinggal.

Secara sektoral, kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran begitu dominan dan terus meningkat, yaitu dari 32,06 persen pada Tahun 2008 meningkat jadi sebesar 34,90 persen pada Tahun 2012. Kemudian disusul oleh sektor jasa-jasa yang memiliki pangsa terbesar kedua, yaitu sebesar 16,28 persen, mulai Tahun 2010 terus mengalami kenaikan yang tadinya hanya 16,12 persen terus merangkak naik jadi 16,22 persen di Tahun 2011 sampai akhirnya di Tahun 2013 menjadi 16,28 persen. Sedangkan kontributor PDRB Kota Banjar terbesar ketiga diperoleh dari sektor pertanian yang memiliki sumbangan sebesar 16,07 persen meskipun sektor pertanian ini dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan, hal ini terjadi karena adanya fenomena alam yang kurang mendukung usaha pertanian di samping terjadinya alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan perumahan dan perindustrian.

Saat ini Kota Banjar selain menuju industrialisasi, ternyata Kota Banjar mulai dibidik oleh investor sebagai sentral distributor, meskipun pertumbuhannya tidak begitu signifikan tapi dari sektor persewaan akan menambah nilai pertumbuhan LPE Kota Banjar, yang juga dapat menyerap banyak tenaga kerja. Setelah Pemkot Kota Banjar meresmikan dua tempat wisata bermain yaitu Alun-Alun Langensari di Kecamatan Langensari dan Lapang Bakti di Kecamatan Banjar, ternyata dari sektor jasa-jasa dan sektor industri pengolahan terutama makanan, minuman dan tembakau ternyata mengalami peningkatan, sesuai harapan sebelumnya yaitu menjadikan dua tempat tersebut sebagai wisata kuliner dan rekreasi keluarga.

PDRB Kota Banjar di Tahun 2013 masih didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, diikuti oleh sektor jasa-jasa, sektor pertanian dan sektor industri pengolahan. Akumulasi pangsa 4 (empat) sektor tersebut terhadap pembentukan PDRB Kota Banjar mencapai sebesar 79,48 persen atau hampir empat per lima total PDRB. Sedangkan kontribusi sektor-sektor lainnya cenderung kecil, seperti : sektor bangunan sebesar 7,09 persen, pengangkutan dan komunikasi 6,63 persen dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan sebesar 5,56 persen. Sementara 2 (dua) sektor lainnya yang memberikan kontribusi paling sedikit terhadap PDRB Kota Banjar adalah sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 0,97 persen dan sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,27 persen.

PDRB Kota Banjar

Secara umum, dapat pula ditarik kesimpulan bahwa struktur ekonomi Kota Banjar masih didominasi oleh kemajuan sektor perdagangan, hotel dan restoran yang didukung peranannya oleh sektor pertanian, sektor jasa-jasa dan sektor industri pengolahan. Keempat sektor tersebut sampai tahun ini masih dianggap sebagai tulang punggung perekonomian Kota Banjar karena memiliki kontribusi paling besar terhadap PDRB Kota Banjar. Hal tersebut menunjukkan bahwa citra Kota Banjar sebagai kota perdagangan dan jasa dan wilayah pengembangan industri yang menjanjikan dengan tetap tidak mengesampingkan sektor pertanian akan terus berlanjut sesuai dengan visinya “Menuju Kota Agropolitan Termaju di Priangan Timur”.

Besarnya peranan keempat sektor di atas tercermin pula dari besaran tenaga kerja yang terserap di dalamnya. Menurut data hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) Tahun 2012, penduduk Kota Banjar yang berusia 15 tahun ke atas dan memiliki mata pencaharian di sektor perdagangan tercatat cukup besar yaitu sebesar 25,87 persen, kemudian disusul oleh sektor industri pengolahan 21,54 persen, sektor jasa-jasa 19,22 persen dan sektor pertanian sebesar 13,64 persen. Banyaknya tenaga kerja yang terserap di sektor-sektor utama tersebut selaras dengan besarnya kontribusi sektor-sektor tersebut terhadap pembentukan PDRB Kota Banjar Tahun 2012.

Bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, meskipuns sektor pertanian, perdagangan dan jasa-jasa selalu dominan dalam pembentukkan PDRB Kota Banjar, bila dicermati akan terlihat adanya penurunan kontirbusi sektor pertanian di satu sisi yang dibarengi dengan meningkatnya kontribusi sektor perdagangan dan jasa-jasa di sisi lain secara perlahan yang mengindikasikan adanya pergeseran struktur ekonomi di Kota Banjar dari tahun ke tahun dari kegiatan yang berbasis primer ke kegiatan yang berbasis sekunder dan tersier. Fenomena ini merupakan ciri suatu “kota” yang sedang membangun dimana terjadi perubahan dominasi dari rural characteristics yang identik dengan usaha yang padat karya ( labor intensive) seperti pertanian dan penggalian menuju urban characteristics yang identik dengan usaha yang padat modal ( capital intensive ) seperti industri, perdagangan dan jasa-jasa (Lewis, 1954). Di Kota Banjar yang notabene adalah daerah perkotaan baru, sektor perdagangan dan jasa akan memberikan rate of return to investment (tingkat pengembalian terhadap investasi) yang relatif lebih tinggi dari sektor lain. Tingginya kontribusi sektor perdagangan, hotel dan restoran yang mencapai sepertiga lebih dari total PDRB Kota Banjar menunjukkan bahwa pelaku kegiatan ekonomi yang mempunyai kecenderungan memilih aktivitas di sektor yang memberikan keuntungan relatif lebih cepat dan tinggi mulai mengenal arah perekonomian Kota Banjar yang sedikit demi sedikit mulai bergeser ke sektor tersier.

Tautan permanen menuju artikel ini: http://banjarkota.go.id/pdrb/

Tinggalkan Balasan