Cetak ini Laman

LPE

Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Banjar

Daerah kota biasanya identik dengan lemahnya potensi pertanian, namun berbeda dengan Kota Banjar. Luasnya lahan pertanian yang subur serta dukungan irigasi yang bagus membuat Kota Banjar maju dalam pertanian.  Meskipun berstatus daerah perkotaan, sebagian penduduk Kota Banjar masih mengandalkan pertanian sebagai mata pencahariannya. Hal ini tidak mengherankan karena secara proporsi Kota Banjar memiliki areal pertanian yang cukup luas, kurang lebih duaperlima wilayahnya adalah pesawahan, perkebunan dan hutan rakyat. Di samping itu, fasilitas irigasi yang memadai turut memajukan sektor ini, terutama untuk pertanian padi sawah.

Produktivitas padi dan palawija di Kota Banjar terus mengalami peningkatan. Rata-rata produksi padi Kota Banjar selama 5 tahun terakhir mencapai sebanyak 37 ribu ton, dengan produktivitas sebesar 6,1 ton per hektar. Jika diasumsikan produksi padi tersebut digunakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat Kota Banjar sendiri saja, maka dapat menjamin kebutuhan penduduk sekitar 0,6 kg padi (kurang lebih setara dengan 0,3 kg beras) per kapita per hari, jumlah yang lebih dari cukup. Hal ini semakin membuktikan bahwa ketahanan pangan Kota Banjar relatif kuat dan mampu berdiri dari kekuatan pangan sendiri, bahkan sisanya masih bisa diekspor ke daerah lain.

Selama kurun waktu lima tahun terakhir laju pertumbuhan produktivitas sektor pertanian Kota Banjar relatif sangat baik, yaitu rata-rata mencapai lebih dari 4 persen setiap tahunnya, dan merupakan kontributor utama kedua yang menjadi sumber laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Kota Banjar setelah sektor perdagangan, hotel dan restoran. Tabel 6.1. menjelaskan bahwa LPE Kota Banjar periode 2006 – 2010 bergerak positif yaitu dari 4,71 persen di tahun 2006 tumbuh menjadi 4,93 persen di tahun 2007 dan sedikit mengalami perlambatan karena faktor eksternal di tahun 2008 dimana hanya mencapai sebesar 4,82 persen, namun pada tahun 2009 pertumbuhan ekonomi Kota Banjar melejit mencapai 5,13 persen, dan terus bergerak naik sebesar 5,28 persen di tahun 2010. Kemajuan ekonomi Kota Banjar tahun 2010 semakin menggeliat naik semenjak mulai beroperasinya jasa hiburan masyarakat Banjar Waterpark (BWP) di Kawasan Parunglesang yang mampu meberikan efek domino dengan turut memberi andil bertumbuhnya usaha-usaha lain, seperti meningkatnya unit-unit usaha perdagangan, restoran baru dan jasa lainnya.

Di tingkat provinsi, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat tahun 2008 mengalami perlambatan dan makin terpuruk sampai dengan tahun 2009, dari 6,48 persen pada tahun 2007 menjadi sebesar 6,21 persen di tahun 2008, selanjutnya kembali merosot hingga 4,19 persen di tahun 2009. Namun pada tahun 2010, LPE Provinsi Jawa Barat kembali merangkak naik menembus 6 persen, sebagai akibat membaiknya kinerja sektor industri yang sempat terpuruk di tahun 2009, karena sektor industri menjadi salah satu penyokong utama pembentukan PDRB Provinsi Jawa Barat.

Dibandingkan dengan kinerja laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat, LPE Kota Banjar memang tergolong stabil dan terkendali. Perlambatan laju pertumbuhan ekonomi Kota Banjar dari tahun 2007 ke tahun 2008 ternyata relatif tidak lebih besar dibandingkan dengan kondisi rata-rata kabupaten/kota lain di Provinsi Jawa Barat pada umumnya.  Orientasi pemenuhan pasar lokal dianggap lebih cocok untuk perekonomian Kota Banjar saat ini. Bahkan semenjak perjanjian pasar bebas Cina Asia (ACFTA), yang berarti akan semakin banyak produk Cina memasuki Indonesia, mulai diberlakukan 1 Januari 2010 pun tidak memberikan dampak yang cukup berarti terhadap perekonomian di Kota Banjar.

Di tahun 2010, kinerja LPE Provinsi Jawa Barat melejit menembus besaran lebih dari 6 persen, dan meninggalkan LPE Kota Banjar yang masih berkutat di kisaran 5 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa kinerja ekonomi industrial yang dikendalikan oleh powerhouse (perusahaan-perusahaan besar) seperti Provinsi Jawa Barat akan dengan cepat mendorong LPE dibandingkan dengan yang berbasis Usaha Kecil dan Menengah (UKM) seperti Kota Banjar. Oleh karena itu, kabupaten/kota yang menargetkan laju pertumbuhan ekonomi tinggi sebaiknya harus berpikir cepat untuk menarik sebanyak-banyaknya dana-dana investasi guna menggerakkan perekonomian di daerahnya dan sekaligus pula memberi dampak kesejahteraan bagi masyarakat. Walaupun demikian, keberadaan industri kecil di Kota Banjar harus tetap dilestarikan meskipun nantinya tumbuh banyak industri besar. Hal ini dikarenakan kinerja industri kecil yang tidak rentan terhadap krisis dan mampu menyerap banyak tenaga dengan tanpa banyak persyaratan terutama tingkat pendidikan formal. Industri kecil lebih mengutamakan keterampilan yang bisa dipelajari sambil bekerja. Supaya dapat berjalan beriringan, harus diupayakan suatu kondisi saling menyokong di antara keduanya. Dengan demikian, peran sektor industri akan menjadi semakin kuat dalam meningkatkan perekonomian.

Ke depan, industri kecil Kota Banjar harus diarahkan menjadi entitas kekuatan ekonomi yang kuat dengan membentuk zona-zona kawasan industri sesuai dengan spesifik wilayahnya. Wilayah Kecamatan Banjar misalnya, sangat identik dengan industri kerajinan bambu (angklung dan anyaman), tahu tempe dan olahan batu bata. Sedangkan Wilayah Kecamatan Pataruman sudah mulai terkenal dengan industri olahan makanan (oleh-oleh). Sedangkan di Kecamatan Langensari mulai menjamur usaha industri tekstil,  bordir, mute, olahan gula kelapa dan lainnya.

Jika diniatkan mengembangkan kawasan agrobisnis dan agroindustri, Kota Banjar harus terus menciptakan terobosan, misalnya membentuk sentra produksi agro yang kuat dan sustainable, dengan memanfaatkan potensi pertanian di wilayahnya seperti: pisang, rambutan, durian, melinjo atau jamur. Masyarakat Kota Banjar harus diberi kesadaran bahwa potensi yang dimiliki selama ini harus terus dikembangkan, dan pemerintah sendiri selayaknya memberi fasilitas yang cukup agar masyarakat mampu meningkatkan produksi dan berkontribusi nyata dalam entitas kawasan agropolitan yang unggul. Dan jika memungkinkan, wilayah potensi agro sekitar Kota Banjar, seperti Kecamatan Lakbok, Kecamatan Banjarsari, dan Kecamatan Cisaga di Kabupaten Ciamis dan Kecamatan Majenang di Kabupaten Cilacap secara bertahap dipersiapkan menjadi bagian besar Kawasan Agropolitan sebagai penyuplai kebutuhan bahan baku olahan industri di Kota Banjar.

Sebagai gambaran, selama ini, di Kota Banjar hanya mempunyai satu perusahaan industri besar yaitu PT. Albashi Parahiyangan, industri pengolahan kayu papan yang bertempat di Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman. Keberadaan perusahaan ini mampu menggerakkan perekonomian Kota Banjar di sektor industri dengan memanfaatkan sebesar-besarnya produk pertanian terutama kehutanan yang merupakan salah satu potensi terbesar Kota Banjar. Belakangan industri besar di Kota Banjar bertambah satu dengan berdiri PT. Sun Chang, industri rambut palsu di Desa Neglasari, Kecamatan Banjar. Disamping meningkatkan perekonomian secara signifikan, dalam hal penyerapan tenaga kerja kedua perusahaan besar ini turut mengatasi masalah pengangguran di Kota Banjar dengan menyerap ratusan hingga ribuan tenaga kerja. Selain itu, sedikitnya tercatat sebanyak 17 perusahaan yang tergolong industri menengah, dimana sebagian besar adalah industri makanan seperti industri gula kelapa, roti, tempe dan tahu. Selebihnya adalah industri mebelair, industri alat rumahtangga (katel), dan industri tekstil seperti industri pembuatan pakaian dan aksesori pakaian sejenis mute yang menyuplai industri-industri tekstil di Kota Tasikmalaya.

Tautan permanen menuju artikel ini: http://banjarkota.go.id/lpe/

Tinggalkan Balasan